Ridho sudah berjam-jam duduk termenung dibawah pohon rindang di depan
rumah sakit tempatnya praktik. Masih jelas diingatannya kejadian 6
tahun yang lalu.
Saat itu dia masih duduk di kelas XII SMA. Wajah yang tampan, tinggi,
ramah, sopan, pintar dan perhatian membuat banyak orang suka berteman
dengannya baik laki-laki maupun perempuan. Hal itu pulalah yang membuat
Vinka selalu nyaman berteman dengannya. Vinka teman Ridho mulai kelas
VII SMP, cantik, periang, dan sedikit tomboi.
Tak ada satu rahasiapun yang dapat disembunyikan oleh Vinka dari
Ridho. Cara brpikir Ridho yang dewasa membuat teman-temannya selalu
curhat padanya. Dimana ada gula disitu ada semut, di mana ada Ridho, di
situ ada Vinka. Diskusi selalu satu kelompok, duduk selalu bersebelahan,
istirahat hampir selalu bersama. Hanya ke toilet saja yang tidak pernah
bersama.
Tanggal 14 Februari 2006 menjadi hari yang tak terlupakan. Di saat
semua orang merayakan hari kasih sayang, Ridho malah menjadi seorang
penipu yang menyedihkan. Saat istirahat, dia ingin memberikan sebungkus
cokelat tanda persahabatan kepada Vinka. Ridho melihat Vinka duduk
dengan Anggara teman sekelas mereka. Ridho mendekati mereka. Alangkah
terkejutnya Ridho saat mendengar dari kejauhan bahwa Anggara menyatakan
cinta pada Vinka.
Ridho memang bukan kekasih Vinka. Namun, entah kenapa dia begitu
terkejut mendengar pernyataan cinta Anggara. Cokelat yang tadinya ingin
diberikan kepada Vinka spontan di buang ke tempat sampah. Ada rasa
kecewa yang sangat mendalam yang dia rasakan. Dia berusaha menenangkan
diri dan berfikir tenang. Dia memutuskan pergi ke kantin dan memesan
satu gelas teh manis dingin. Dia masih tidak yakin dengan apa yang dia
rasakan. Dunia rasanya berputar sangat cepat sehingga dia susah berfikir
dengan tenang.
Belum lama di kantin, tiba-tiba dia dikejutkan oleh suara perempuan
yang sudah tidak asing ditelinganya. Perempuan yang tidak ingin dia
lihat untuk saat itu. Bukan karena benci, tetapi karena dia tidak
sanggup memandang wajahnya entah karena apa.
Vinka yang tidak tau apa-apa, duduk di depan Ridho. Dia mulai menceritakan apa yang baru dia alami dengan penuh semangat.
“Dho, menurutmu Anggara pria yang bagaimana?” Vinka memulai percakapan.
“Kamu tau enggak, tadi dia nyatakan cinta lo sama aku! So sweet… Gimana menurutmu Dho?” tanya Vinka.
“Gimana apanya?” Jawab Ridho berpura-pura tidak mengerti.
“Gimana bilangnya ya, aku belum kasi jawaban sama Anggara. Soalnya aku
masih bingung, aku masih mau konsultasi dulu sama kamu baru aku kasih
jawaban ma Anggara. Menurutmu aku cocok nggak ma Anggara?
Ridho yang dari tadi asyik memutar-mutar sedotan digelasnya hanya diam.
“Ridho, kamu sakit ya?” sepertinya kamu dari tadi tidak mendengarkan
ceritaku sedikitpun. Atau ada perkataanku yang menyinggung perasaaanmu?
“Tidak ada, aku dengar ko.”
“Terus?”
“Aku hanya sedang berfikir.” Ridhopun mengangkat wajahnya yang dari tadi
hanya menunduk. Diapun memandang wajah Vinka yang sudah tiak sabar
mendengar jawaban Ridho .
“Vinka…”
“Ya,” jawab Vinka tidak sabaran.
“Kamu suka kepada Anggara?
“Mmmmmmmmmmmm, gimana ya. Kalau aku bilang tidak suka, aku bohong.
Perempuan mana yang tidak menyukai Anggara. Baik, pintar, tampan, main
gitar bisa, piano bisa, main sepak bola keren, apalagi main basket, dan
romantis” jawab Vinka bersemangat.
“Aku juga bisa main piano, main gitar, sepak bola, basket, bahkan lebih hebat dari dia. Berarti kamu juga suka dong sama aku?”
“Tentu aja aku suka”. Jadi, kalau aku nembak kamu, kamu mau jadi
pacarku?” Sambil terus menatap mata Vinka. Vinka yang tadinya memandang
wajah Ridho berubah menjadi merah, salah tingkah.
“Gimana Vinka, mau nggak?” tanya Ridho lagi semakin serius.
“Dho, kamu kenapa sih? Ko jadi aneh begini? Aku ga suka tau. Aku memang
suka sama kamu, tapi bukan untuk jadi kekasih, kamu itu sahabatku yang
paling baik Ridho dan aku tidak mau kehilangan sahabat! Kamu ini la…
buat aku semakin bingung!” Vinka mulai marah.
“Sudahlah, kamu membuat perasaanku tidak enak!” Berdiri dari kursinya dan meninggalkan Ridho di kantin.
Melihat Vinka pergi, Ridho mengejar dan menarik tangannya.
“Hahahaha… 1-0, aku berhasil ngerjain kamu!” Ridho memaksakan sebuah
senyum mendarat di bibirnya. Dia sadar bahwa dia tidak bisa melihat
Vinka sedih.
“Aku tadi hanya bercanda, masak aku pacaran denganmu, apa kata dunia?
Rido yang ganteng pacaran dengan cewek tomboi yang gampang marah…” Rido
membohongi hati nuraninya. Dia tau bahwa perasaan cinta yang baru dia
sadari tak akan pernah terbalas.
Vinka yang dari tadi diam hanya berdiri memandangi Ridho, masih terlihat kekecewaaan di wajahnya.
“Ga lucu, aku pikir tadi kamu serius”.
“Kalau tadi aku serius, pasti kamu langsung terima aku kan?” Goda Ridho.
Ya enggak la… kan aku uda bilang aku menganggap kamu sahabat. Lagian
aku kan dah cerita kalau aku suka ma Anggara. Gimana sih?”.
Mendengar perkataan Vinka, hampir saja air mata Ridho menetes, tapi dia
berusaha menahannya dengan sebuah senyaman. Malu menangis di depan
perempuan apalagi karena masalah perasaan.
“Anggara, laki-laki yang baik, kalian sangat serasi!” Aku berdoa semoga
kalian bahagia. Tapi ingat, jangan pernah lupakan persahabatan kita
karena kamu sudah punya pacar.
Ridho meraih tangan Vinka, “Happy valentine sahabatku.”
Happy valentine juga, mana cokelatnya? Biasa kamu ga pernah absen kasi aku cokelat? Tanya Vinka.
Ridho hanya diam tidak menjawab, matanya hanya memandangi sebuah tempat
sampah. Hatiku bernasib serupa seperti cokelat itu, bisisknya.
“Apa kamu bilang? Kamu ko berubah jadi melo sih…? ga seru tau!!!
Eh, sudah bel.. ayo kita masuk ke kelas, aku sudah tidak sabar bertemu
dengan anggara. Vinka berlari meninggalkan Ridho yang masih berdiri
memandangi tempat sampah. Tak ada semangat untuk masuk ke kelas, dia pun
menemui wali kelasnya dan izin pulang dengan alasan sakit kepala. Dia
menyuruh temannya Limjun mengambil tasnya ke kelas, dia tidak siap
melihat wajah Anggara dan Vinka. Benar-benar valentine kelabu.
Setibanya dia di rumah, dia menemui ibunya dan bertanya apakah dia
bisa pindah ke luar kota. Mendengar itu ibunya kaget dan memandang Ridho
dengan penuh kasih.
“kamu ada masalah Ridho, tiab-tiba pulang cepat dan langsung mau pindah
sekolah. Kamu berkelahi di sekolah? Tanya ibunya khawatir. “enggak Ma,
aku da jenuh aj sekolah di sana. Jawabnya serius. Mama ga percaya, baru
tadi pagi kamu semangat ke sekolah, eh sekarang kamu mau pindah,
sebentar lagikan kamu UN, mana bisa sembarangan pindah sekolah. Justru
karena sebentar lagi mau UN, aku sudah jenuh sekolah di sana, aku tidak
semangat lagi belajar. Ya ma, bujuk Ridho. “Nanti mama diskusikan dulu
ma papa kamu, tapi mama masih belum bisa terima alasanmu” Pasti terjadi
sesuatu di sekolah, selidik mamanya. Ah mama ni lah, kalau ga percaya
tanya aja Ms. Tina kalau ga percaya. Kalau bisa hari Senin aku da pindah
ya ma, ke luar kota. Kalau enggak, aku mau ke Medan aja, sama tante
Desy. Ok ma, aku mau masuk dulu, mau selesaikan tugas untuk besok biar
besok berakhir dengan bahagia.
Di kamar, Ridho duduk termenung. Dia tidak sadar kapan tepatnya mulai mencintai Vinka.
“Jadi, selama ini rasa yang kumiliki tidak tulus sebagai sahabat? Kenapa
hatiku begitu sakit saat aku tau dia menyukai pria lain. Apakah aku
sudah mencintainyaa begitu dalam? Bagaimana aku bisa melihat mereka
berdua selalu bersama? Sampai kapan aku bisa membohongi perasaanku di
hadapnnya? Kenapa aku baru sadar sekarang? Sekarang sudah terlambat
bagiku, aku tidak sanggup lagi terus di sekolah itu. Pokoknya aku harus
pindah, aku harus bisa meyakinkan mama dan papa. Harus!!!” Gumannya .
Dia mengeluarkan bukunya, dia ingat ada tugas Bahasa Indonesia menulis
puisi bebas. Diapun mulai menulis sambil diiringi lagu Arilasso “Patah
hati”.
Pria Bodoh
Dia pergi membawa cinta
Cinta yang baru saja dia sadari
Walau datangnya sudah lama
Namun baru dia menyadari
Kenapa dia tidak menyadari sejak dulu
Kalaulah waktu dapat diputar kembali
Dia lebih memilih menjadi kekasihmu
Dibandingkan menjadi sahabat sejati
Tapi dia tidak tahu kapan dia jatuh cinta
sejak kapan persahabatan itu berubah menjadi cinta
Yang dia tau hanyalah rasa sakit dan kehilangan
Saat sahabatnya menerima cinta pria lain
Disaat hati terbakar cemburu
bibir harus tersenyum bahagia
Apa daya
Dia tidak lebih dari seorang sahabat
Dia memang pria bodoh menurutmu
Sekaligus sahabat yang menyedihkan
Pria itu adalah aku Vinka
Yang mencintai sahabatnya yaitu kamu
Pria yang memilih pergi membawa cinta dan kekecewaan
Ridho menutup bukunya dan merebahkan badannya di tempat tidur,
pikirannya masih tertuju kepada Vinka. “Mungkin mereka sudah jadian
sekarang” pikirnya.
Akhirnya Ridho berhasil membujuk orang tuanya dan dengan cepat orang tuanya mengurus surat pindah Ridho.
“Dho, aku ihat tante ma Om ada di depan, kirain permisikan kamu. Btw,
kenapa kamu kemaren izin pulang? Kamu sakit ya?” tanya Vinka penasaran.
“enggak ko, kemaren hanya pening sedikit, mama dan papa paling bayar
uang sekolah. Jawab Ridho berbohong.
“Oke la kalau begitu, aku mau nyamperin Anggara dulu, ada hal yang mau aku kasi tau ma dia” pergi meninggalkan Ridho.
Ridho membalikkan badannya tidak mau melihat mereka duduk bersama, rasanya dia terbakar cemburu.
“Baiklah Ridho, hanya hari ini, senyum, dan senyum, jangan sampai Vinka tau perasaanmu yan sebenarnya” Ridho berbicara sendiri.
Akhirnya pelajaran pertama di mulai, Bahasa Indonesia. Ms, Nengsi masuk dan menyuruh siswa mengumpul tugas menulis puisi.
semua siswa mengumpul termasu Ridho. Dia mengumpul puisi yang kemaren ditulisnya untuk Vinka.
“Baiklah anak-anak, sebelum kita melanjutkan pelajaran, ada yang mau membacakan puisinya di depan kelas? Tanya Ms. Nengsi.
“saya Ms, jawab Vinka sambil maju ke depan kelas.
Diapun membuka bukunya dan mulai membaca…
Persahabatan
Kebetulan…
Bertemu
Satu sekolah
Satu kelas
Berkenalan
Saling menyapa
Saling senyum
Berteman
Menjadi sahabat
Tertawa
Bertengkar
Berbaikan
Berbagi
Suka
Duka
Jatuh cinta
Berjanji tuk terus bersama
Masikah itu satu kebetulan?
Vinka selesai membaca puisinya dan sedikit tertunduk malu. Ridho yang
mendengar puisi itu bingung, dia tidak yakin puisi itu ditujukan kepada
siapa. Rasa sedih sudah mulai dia rasakan kala mengingat bahwa hari itu
adalah hari terakhirnya di sekolah itu.
Bel pulang sekolah berbunyi, siswa berhamburan keluar kelas, kecuali Ridho dan Vinka.
“Dho, ke pantai yuk..” Ajak Vinka. “Aku mau bicara hal penting ma kamu.
Mau ya?” ajak Vinka. “Maaf ya Dil, aku ada urusan, gimana kalau kamu
ngomong di sini aja kan sama saja. Kalau enggak kamu pergi ma Anggara
aja. Oke? Jawab Ridho menolak. Ya udah, kapan-kapan aja, lagian hari ini
aku melihat kamu beda dari hari biasanya, kamu lebih banyak diam, aku
duluan ya. daaaaa!! Vinka meninggalkan Ridho di kelas. Selamat tinggal
Vinka, maafkan aku pergi tanpa permisi aku tidak bisa melihatmu seiap
hari bersama Anggara apa lagi mendengar curhatmu tentang dia.” Katanya
pelan.
Hari itu, kelas digempakan oleh berita kepindahan Ridho yang
mendadak. Semua tidak tau alasan kepindahan Ridho begitu juga dengan
Vinka. Sekarang dia tau kenapa Papa dan mama Ridho datang ke sekolah.
“Ridho membohongi aku, kenapa dia tidak jujur padaku. Apa salahku
padanya sehingga dia pindah tidak memberitahukannya padaku.. Apakah dia
tidak menganggap aku sahabatnya?” Vinka menangis di kamar mandi. Ridho,
apakah waktu 6 tahun yang kita lalui tidak berarti bagimu? Apa salahku
padamu Ridho? Kau jahat Ridho.. sambil menangis terisak-isak. Bel masuk
kelas berbunyi, Vinkapun menghapus air matanya dan masuk ke kelas. Saat
itu pelajaran Bahasa Indonesia. Ms. Tina membagikan buku PR mereka
karena Ridho sudah pindah, maka buku Pr nya diberikan kepada Vinka agar
Vinka mengantarkannya ke rumah Ridho.
Sesudah bel pulang berbunyi Vinka melihat buku PR Ridho. Perlahan-lahan dia membuka buku PR Ridho dan mulai membaca puisi Ridho…
Pria Bodoh
Dia pergi memebawa cinta
Cinta yang baru saja dia sadari
Walau datangnya sudah lama
Namun baru dia menyadari
Kenapa dia tidak menyadari sejak dulu
Kalaulah waktu dapat diputar kembali
Dia lebih memilih menjadi kekasihmu
Dibandingkan menjadi sahabat sejati
Tapi dia tidak tahu kapan dia jatuh cinta
sejak kapan persahabatan itu berubah menjadi cinta
Yang dia tau hanyalah rasa sakit dan kehilangan
Saat sahabatnya menerima cinta pria lain
Disaat hati terbakar cemburu
bibir harus tersenyum bahagia
Apa daya
Dia tidak lebih dari seorang sahabat
Dia memang pria bodoh menurutmu
Sekaligus sahabat yang menyedihkan
Pria itu adalah aku
Yang mencintai sahabatnya
Pria yang memilih pergi membawa cinta dan kekecewaan
Ridho
14 Februari 2006
Tanpa disadari, air matanya mengalir deras. Tanpa berpikir panjang
dia berlari meninggalkan kelas. Dia tidak peduli dengan air matanya yang
terus menetes. “Ternyata kau pergi untuk menghindari aku, kau memang
pria bodoh Ridho, jangan pergi dulu, tunggu aku,” gumannya sambil terus
berlari menuju motornya. Dia langsung mengendarai motornya menuju rumah
Ridho, perlahan-lahan di hapusnya air matanya yang terus membasahi
pipinya.
Berselang beberapa menit, dia tiba di rumah Ridho, dia melihat rumah
Ridho sangat sepi. Hanya ada tukang kebun dirumah. Tukang kebun itu
berkata bahwa Ridho dan orang tuanya pergi ke luar kota tidak tau kemana
pastinya. Mendengar itu duduk di depan pintu gerbang rumah Ridho dan
menangis sejadi-jadinya. Sekarang dia menyadari bahwa ucapan Ridho di
kantin tidak bercanda melainkan sungguh-sungguh dan yang paling membuat
dia sedih bahwa Ridho pergi untuk menghindarinya.
“Dasar pria bodoh” makinya pelan.
………………..
Tiba-tiba bunyi HP nya menyadarkan Ridho dari lamunannya.
Dengan malas dia mengangkat HP nya.
“Halo San!”
“Halo Do, kenapa kamu tiba-tiba pergi? Dokter Iksan dari tadi mencarimu.”
Terus, kamu bilang apa?
Aku bilang saja tiba-tiba kamu sakit perut dan ke kamar mandi, dokter
Iksan sepertinya marah karena dia merasa kamu tidak bertanggung jawab.
Di hari pertama kamu prektek kamu sudah buat masalah. Aku sarani kamu
kmbali ke RS kalau tidak mau mendapat masalah yang lebih parah. Ok”
baiklah San, thx ya.” Jawab ridho sembari menutup telepon.
Bagaimana mungkin aku kembali ke sana. Gumannya. Kenapa Vinka ada di
RS ini? Kenapa dia memakai pakaian perawat? Apa mungkin dia perawat di
RS ini? Kenapa semua serba kebetulan? Aku belum sanggup bertemu
dengannya. Aku malu dengan kejadian 5 tahun yang lalu. Walaupun di sisi
lain aku bahagia bisa bertemu kembali dengannya. Aku sadar bahwa sampai
saat ini perasaan itu tidak berubah sedikitpun. Tapi aku harus berkata
apa ketika bertemu dengannya?
Baiklah, aku tidak mau selamnya menjadi pria bodoh, aku harus
menghadapinya. Lagian, dia kan tidak tau perasaanku padanya. Yang dia
tau aku hanyalah sahabat yang pergi tanpa pesan. Baiklah” Ridho pun
kembali ke RS dan segera menemui dokter Iksan dan meminta maaf karena
pergi terlalu lama. Beruntung dokter Iksan memaafkannya.
Keluar dari rungan dokter Iksan dia menabrak seorang perawat yang
membawa catatan medis pasien yang berserakan di lantai karen
ditabraknya. “Maaf, aku tidak sengaja” ridho meminta maaf sambil
membereskan kertas yang berantakan di lantai. Perawat yang di tabraknya
tadi hanya dim membisu memandanginya. Dia tidak tau mau berkata apa. Ini
berkas kamu, ma… kata-katanya terpustus saat melhat wajah perawat itu.
Vinka… sapanya. Vinka merebut catatan medis yang di pungut Ridho dan
segera mauk ke kantor Dr. Iksan. Ingin rasanya dia memukul pria yang
menabraknya, memakinya dan dia juga ingin memeluknya. Tapi tak satupun
dia lakukan.
Ridho masih menunggu Vinka keluar dari ruangan Dr. Iksan. Dia
berusaha merangkai kata-kata yang akan di ucapkannya saat Vinka keluar
dari ruangan. “apa kabar Vinka, kamu makin cantik memakai baju perawat.
Ah terlalu kampungan.. gumannya. Hay Vinka, lama tak bertemu, gimana
kabarmu dan hubunganmu dengan Anggara? Hmmm, terlalu lantang gumannya
lagi.
Akhirnya Vinka keluar dari ruangan Dr. Iksan. Vinka, panggil Ridho.
DVinka tidak menyahut, dia terus berjalan meninggalkan Ridho. Dia masih
tidak tau apa yang harus dia lakukan. Vinka… Ridho mengejar Vinka, Kamu
Vinka kan? Teman satu SMA ku? Vinka, aku Rangga. Rangga sahabatmu? Masih
ingatkan? Tanyanya. Rangga yang mana ya? Aku tidak punya teman yang
namanya Rangga, apalagi sahabat. Dulu sih ada tapi dia sudah mati.
Vinka, aku memang slah, maafkan aku ya. Kata Rangga pelan. Maaf ya
pak, saya tidak kenal anda dan anda tidakusah minta maaf pada saya. Maaf
saya buru-buru banyak kerjaan. Permisi. Vinka pergi menjauhi Ridho, tak
terasa air matanya menetes lagi.
Kenapa aku berkata seperti itu, kenapa aku lari.. Plisss Vinka,
bukankah kamu sudah lama berdoa agar kamu bisa bertemu lagi dengan
Ridho? Kenapa ketika bertemu kamu bilang dia sudah mati. Dasar Vinka
bodoh,” Vinka menyesali perbuatannya.
Ridho yang ditinggalkan Vinka hanya terdiam lesu. Dia sangat terpukul
mendengar perkataan Vinka. Apakah aku sudah sangat kelewatan pada
Vinka? Mengapa dia begitu marah padaku. Apakah karena aku tidak
memberitahukan kemana aku pergi?” baiklah, aku akan mencobanya besok.
Hari itu Ridho berdandan sangat rapi. Dia akan menemui Vinka lagi .
Tapi sudah setengah hari dia mencari di RS tapi dia tidak kunjung
mnemukan Vinka. Akhirnya dia bertanya pada salah seorang suster. Akhinya
dia tahu bahwa Vinka tidak masuk karena sakit. Mendengar Vinka sakit,
Ridho langsung khawatir dan meminta alamat Vinka kepada perawat
tersebut.
Sepulang praktik, dia lagsung bergegas ke rumah Vinka. Ridho mengetuk
pintu berulang–ulang. Vinka yang sedang duduk di kamar membaca sebuah
buku mendengar pintunya di ketuk. Diapun menuju pintu dan dilihatnya
dari jendela bahwa yang datang adalah Ridho.
Vinka ragu membuka pintu, Ridho yang sudah melihat Vinka di dalam menyuruh Vinka membuka pintu tersebut.
“Vinka buka pintunya, aku tau kamu di dalam. Aku tau kamu tidak skait.
Kamu hanya ingin menghindariku kan? Ayo buka pintunya aku mau bicara”
“Aku tidak menerima tamu aku mau istirahat. Pergilah… aku tidak akan
membuka pintu. “Vinka, aku akan menunggu disini sampai kamu membuka
pintu. “Terserah” Jawab Vinka kesal.
Ridho duduk di depan pintu rumah Vinka. “Vinka, aku tau kamu masih di
situ, sahutnya. Kalau aku slah tolong beri tau aku apa salahku. Apakah
kita tidak bisa menjadi sahabat lagi? Tanyanya. Dia tidak mendengar
jawaban. Beberapa jam menunggau Vinka tidak keluar juga. Vinka yang dari
tadi membaca buku yang sudah mulai usang hanya menangis. Aku harus
mulai dari mana Ridho, bisiknya pelan. Apakah perasaanmu masih sama
seperti yang ada di buku ini? Bagaimana kalau perasaanmu sudah brubah?
Bagaimana dengan diriku?
Empat jam berlalu, dia tidak mendengar suara dari luar. Mungkin dia
sudah pergi Pikir Vinka. Vinka perlahan-lahan membuka pintu dan alangkah
terkejutnya saat dia melihat Ridho pingsan di depan pintu.
“Ridho, bangun… jangan bercanda! Ridho bangun.! Kalau kamu tidak bangun
aku tidak akan pernah memafkanmu..” Ridho masih tidak bangun. Akhirnya
Vinka menarik badan Ridho ke dalam rumah dan mengoleskan minyak wangi ke
hidungnya.
Ridho, bangun! Kenapa kamu selalu membuatku menangis. Kamu tau sudaj 6
tahun aku selalu berdoa agar aku bisa bertemu denganmu. Tapi kenapa
semua jadi bengini… Ridho, bangun Ridho. Aku ga mau kehilangan kamu
lagi.. Vinka mulai mnangis.
Mendengar Vinka menangis akhirnya Ridho membuka matanya. 2-0 katanya.
Kamu tertipu lagi… hahahhaha… pake nangis lagi. Sudah dong Vinka. Sadar
Ridho hanya pura-pura pingsan Vinka sangat malu bercampur marah. “Pergi
kamu dari rumahku.. dan jangan datang lagi bentak Vinka. Melihat Vinka
marah Ridho hanya tersenyum. “Kenapa kamu tersenyum, pergi sana.. aku
tigak mau melhat wajahmu lagi. Bentak Vinka. Maaf Vinka, aku hanya
bercanda, lagian siapa tadi yang nangis sambil bilang kalau sudah 6
tahun terus berdoa agar bisa bertemu denganku dan tidak mau kehilangan
aku lagi.
Mendengar perkataan Ridho, akhirnya Vinka duduk di depan Ridho.
Ridho, aku berteman sangat lama denganmu, namun aku tidak tau sedikitpu
isi pikiranmu, Vinka mulai serius. Knapa kamu pergi? Aku mau mendengar
jawabanmu!
“Aku pergi karena sudah jenuh sekolah disana.’ Jawabnya. Kenapa Kmu
tidak mengatakannya padaku? Kamu tidak menganggap aku sahabatmu? Maaf
Dil, bukan begitu, aku takut kalau aku bilang kamu tidak akan
menigjinkanku pergi. Benarkah begitu? Tanya Vinka. “Ya begitulah” terus
kenapa kamu bilang 2-0? Oh, dulu kalau kamu ingat waktu di kantin aku
juga pernah membohongimu, masih ingat? Tanya Riho. Mebohongiku atau
membohongi perasaanmu? Tanya Vinka. Mendengar perkaaan Vinka Ridhopun
mulai heran, kenapa Vinka berkata demikian. Kamu ingat Ridho, di hari
terakhir kita bertemu aku mengajakmu ka pantai? Ya, aku ingat jawab
Ridho. Saat itu aku ingin curhat tentang hubunganku dengan Anggara” Ya
aku tau jawab Ridho spontan. Kamu tidak tau Dho, apa kamu tau kalau aku
tidak menerima cinta Anggara? “Apa? Tanya Ridho kaget. Benarkan kamu
tidak tau, kamu memang bodoh.. Aku pikir hari itu kamu sudah menerima
dia..
“Tidak Dho, setelah kupertimbangkan perasaanku padanya bukanlah cinta,
melainkan hanya rasa kagum. Aku berpikir saat itu aku sudah jatuh cinta
pada pria lain, tapi aku sangat lambat menyadarinya..
“Siapa? Tanya Ridho penasaran…
Pria Bodoh
Dia pergi memebawa cinta
Cinta yang baru saja dia sadari
Walau datangnya sudah lama
Namun baru dia menyadari
Kenapa dia tidak menyadari sejak dulu
Kalaulah waktu dapat diputar kembali
Dia lebih memilih menjadi kekasihmu
Dibandingkan menjadi sahabat sejati
Tapi dia tidak tahu kapan dia jatuh cinta
sejak kapan persahabatan itu berubah menjadi cinta
Yang dia tau hanyalah rasa sakit dan kehilangan
Saat sahabatnya menerima cinta pria lain
Disaa hati terbakar cemburu
bibir harus tersenyum bahagia
Apa daya
Dia tidak lebih dari seorang sahabat
Dia memang pria bodoh menurutmu
Sekaligus sahabat yang menyedihkan
Pria itu adalah aku
Yang mencintai sahabatnya
Pria yang memilih pergi membawa cinta dan kekecewaan
Vinka mengucapkan puisi Ridho sambil menangis, aku menyadarinya
setelah aku tau kamu pergi. Sambil menyerahkan buku PR Ridho. Buku ini,
guman Ridho.. Aku berusaha mengejarmu ke rumahmu, tapi sudah terlambat.
Seterlambat aku menyadari perasaanku. Dua orang sahabat yang bodoh yang
saling mencintai.
“Vinka” Stop, Ridho menghentikan ucapan Vinka, aku belum selesai bicara.
Kamu inagt puisi yang aku bacakan? Kamu tau puisi itu untuk siapa?
Puisi itu untukmu bodoh…
Bukankah kamu sahabatku? Tapi kamu juga tidak menyadarinyakan?
Aku tidak tau apakah perasaanmu masih sama.. Vinka menghentikan ucapannya.
Vinka aku pikir puisi itu untuk Anggara. Aku memang bodoh… terlalu kekanak-kanakan…
“Vinka, aku tau sudah sangat terlambat…
Tapi, maukah kamu menjadi kekasihku?
Maaf Ridho, aku tidak bisa?
kenapa Vinka, kamu tidak mencintaiku lagi? Atau kamu sudah punya kekasih lain?
“Ridho, aku tidak bisa menolakmu, kau terlalu berharga untuk ku tolak.. akhirnya Vinka tersenyum dan memeluk Ridho.
Sahabat, aku cinta.
Tamat….
Tidak ada komentar:
Posting Komentar